ALISIS GAYA BAHASA DALAM CERPEN ”BIDADARI
SENJA” KARYA SAKTI WIBOWO
SKRIPSI
Oleh
HENDRAYADI
NIM. 107110046
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM
2011
ANALISIS GAYA BAHASA DALAM CERPEN ”BIDADARI
SENJA” KARYA SAKTI WIBOWO
SKRIPSI
Oleh
HENDRAYADI
NIM. 107110046
Skripsi ini telah diperiksa dan disetujui
pada tanggal, Agustus 2011
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. Akhmad H. Mus, M. Hum. Roby
Mandalika. W, S. Pd
NIDN.0822086002 NIDN.0822038401
ANALISIS GAYA BAHASA DALAM CERPEN ”BIDADARI
SENJA” KARYA SAKTI WIBOWO
SKRIPSI
Oleh
HENDRAYADI
NIM 1071100461
Skripsi ini telah diuji, disetujui dan
disahkan pada tanggal, September 2011
- Drs. Akhmad H. Mus, M. Hum. ( )
Ketua
- Roby Mandalika W, S.Pd ( )
Anggota
- M. Aris Akbar, S.S ( )
Anggota
Skripsi ini telah
diterima sebagai salah satu syarat untuk mencapai kebulatan studi Strata Satu (
S1 ) pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah
Mataram
Mataram..................2011
Mengetahui
Fakultas
Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas
Muhammadiyah Mataram
Dekan,
DR. H. Suwardie., AH. SH. MPA
NIDN. 0815054
MOTO
Di dalam hidup ini semua
manusia punya mimpi. Jangan pernah sekali-kali takut bermimpi, karena hidup ini
berawal dan bermula dari sebuah mimpi, tanpa mimpi seseorang tidak akan pernah
bisa meraih apa yang diimpikanya. Orang yang takut bermimpi adalah orang yang
selalu gagal dalam hidupnya
PERSEMBAHAN
Skripsi ini kupersembahkan
1.
Kepada kedua orang tuaku yang telah berkorban demi masa
depanku, terimakasih atas doa, dukungan, dan pengorbanannya.
2.
Untuk semua keluarga dan masyarakatku yang telah
memberikan semangat, motivasi dan dukungan untuk maju.
3.
Untuk seseorang yang menempati ruang istimewa dalam
hatiku dan selalu menjadi motivasi serta inspirasi bagiku, terimakasih atas doa
dan dukunganya
4.
Teman-temanku yang menjadi motivasi dan mengingatkan aku disaat aku lupa dan
khilaf
5.
Almamater tercinta yang aku banggakan
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahhirobbil’alamin,
puji syukur setinggi-tingginya ke hadirat Allah SWT atas segala rakhmat dan hidayah-Nya yang tiada
henti-hentinya bagi semua makhluk. Salam
dan shalawat kita persembahkan kepada junjungan sekalian alam Nabi besar
Muhammad SAW.
Skripsi berjudul “Analisis Gaya
Bahasa dalam Cerpen Bidadari Senja” dalam pelaksanaan penyusunanya, bukan atas
usaha sendiri, namun karena banyak bimbingan, arahan, dan saran-saran dari
Bapak dan Ibu Dosen serta pihak lainya. Pada kesempatan ini penulis
menyampaikan ucapan terima kasih kepada
yang terhormat :
- Rektor Universitas Muhammadiyah Mataram
- Bapak DR. Haji Suwardie., AH. SH. MPA selaku Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Mataram
- Bapak Drs. Akhmad H. Mus., M.Hum selaku Ketua Prodi bahasa Indonesia.
- Drs. Akhmad H. Mus., M.Hum selaku Dosen Pembimbing pertama
- Bapak Roby Mandalika W., S.Pd selaku dosen pembimbing ke dua yang selalu memberi motivasi serta ilmu pengetahuan yang begitu berarti.
- Para sahabat yang telah memberi motivasi dan semangat selama penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari akan banyaknya kekurangan yang terdapat pada skripsi
ini, untuk itu segala kritik dan saran yang sifatnya membangun dan memperbaiki
sangat penulis harapkan. Akhir kata
semoga skripsi ini bermanfaat untuk penulis sendiri dan orang lain, amin.
Mataram, 2011
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING............................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ iii
HALAMAN
MOTTO...................................................................................... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN..................................................................... v
KATA PENGANTAR..................................................................................... vi
DAFTAR ISI................................................................................................... vii
ABSTRAK....................................................................................................... xi
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................... 4
1.3 Tujuan penelitian......................................................................... 4
1.4 Manfaat penelitian ...................................................................... 4
1.4.1 Manfaat Teoretis................................................................ 4
1.4.2 Manfaat Praktis ................................................................. 5
BAB II : LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Prosa.......................................................................... 6
2.2 Pengertian Puisi........................................................................... 8
2.3 Pengertian Drama ....................................................................... 10
...... 2.4.1
Unsur-unsur Intrinsink Drama ........................................... 10
2.4.2
Menulis Drama .................................................................. 11
3.1 Pengertian Cerpen ...................................................................... 11
3.1.1
Ciri-ciri Cerpen.................................................................... 12
3.1.2 Unsur-Unsur
Intrinsik Cerpen ............................................ 12
3.1.3 Gaya
Bahasa........................................................................ 14
3.1.4 Jenis-jenis Gaya Bahasa...................................................... 17
3.1.4 Unsur-unsur Ekstrinsik Cerpen .......................................... 22
4.1 Stilistika ....................................................................................... 22
BAB III
: METODE PENELITIAN
3.1 Sumber Data................................................................................ 26
3.2 Metode Pengumpulan Data ........................................................ 26
3.3 Metode Analisis Data ................................................................. 28
BAB IV : PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
4.1 Data ............................................................................................ 30
4.1.1 Deskripsi Data ................................................................... 30
4.1.2 Sinopsis Cerita ................................................................... 33
4.1.3 Tokoh-tokoh dalam Cerpen Bidadari Senja....................... 35
4.1.4 Dialog dalam Cerpen Bidadari Senja ................................ 37
4.1.5 Ragam Gaya Bahasa dalam Cerpen Bidadari Senja ......... 38
4.1.5.1 Personafikasi ......................................................... 39
4.1.5.2 Hiperbola ............................................................... 40
4.1.5.3 Metafora ................................................................ 41
4.1.5.4 Simile ..................................................................... 42
4.1.5.5 Sarkasme ............................................................... 43
4.1.5.6 Aliterasi ................................................................. 44
4.1.5.7 Pleonasme .............................................................. 45
4.1.5.8 Ironi ....................................................................... 46
4.1.5.9 Eufemisme.............................................................. 47
4.1.5.9 Alusi....................................................................... 48
BAB V : PENUTUP
5.1 Simpulan ..................................................................................... 49
5.2 Saran ........................................................................................... 49
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
LAMPIRAN-LAMPIRAN
ABSTRAK
ANALISI GAYA BAHASA DALAM CERPEN ”BIDADARI
SENJA” KARYA SAKTI WIBOWO
Oleh : Hendrayadi, 2010
Gaya Bahasa atau disebut juga majas
sebagai unsur pembangun wacana pada karya sastra mempunyai peranan sangat
penting karena di situlah letak salah satu daya tarik karya sastra agar tidak
menjemukan. Menganalisis majas merupakan salah satu kegiatan apresiasi
sastra yang dapat memberikan gambaran secara rinci tentang teknik penggunaan
majas yang terdapat dalam suatu cerpen atau cerita pendek.
Permasalahan
dalam penalitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gaya bahasa apa saja yang
terkandung dalam cerpen Bidadari Senja. Gaya bahasa ini dapat bermanfaat dan
menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi semua orang ataupun penuliti-peneliti
berikutnya. Penalitian ini akan bisa menjadi acuan untuk mengembangkan sebuah
karya ilmiahnya. Penelitian ini merupakan kajian stilistika karena membicarakan
gaya bahasa yang sesuai dengan jenis dan sifat dan aspek penggunaanya.
Sesuai dengan
jenis dan sifat penelitian ini, maka metode yang digunakan adalah metode
dokumentasi dari berbagai jenis buku bahasa Indonesia, sastra, dan maupun
kumpulan cerpen Bidadri Senja ini. Sedangkan analis data-data didasarkan pada
satuan yang bermakna dengan tidak melupakan keberhubuangan makna dalam fungsi struktural
gaya bahasa yang digunakan dalam penelitian agar mencapa sebuah analis yang
tepat. Sebelum menganalisis data maka dipelajari jenis gaya-gaya bahasa
terlebih dahulu untuk memudahkan sebuah penelitian oleh penulis.
Dari hasil
penelitian data ditemukan : a. gaya bahasa antiklimaks, klimaks, dan
paralelisme yang dilihat dari aspek kalimat. Gaya bahasa ini digunakan
semata-mata untuk menarik perhatian pembaca, b. dari aspek kata dijumpai
retotis dan kiasan. Gaya bahasa retotis berupa gaya bahasa litotes, ironi (
sarkame), pleonasme, innuendo, dan eufemismus. Sedangkan gaya bahasa kiasan
berupa gaya bahsa personafikasi , metafora, hiperbola, sinekdoke (pars pro
toto), dan paradox. Penggunaan gaya bahasa ini ditunjukkan untuk menambah daya
ekspresi, citraan yang hidup dan kaya serta mesugesti pembaca.
Kata kunci : analisis, gaya bahasa, cerpen
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rene
Wellek dan Austin Warren dalam bukunya Teori Kesusastraan (1995) sastra adalah
suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni. Sastra lahir melalui proses
imajinatif penciptanya. Proses kelahiran inilah yang membedakan karya sastra
dengan karya-karya lain.
Karya
sastra harus mendapatkan perhatian dari masyarakat, karena merupakan
transformasi perisitiwa yang terjadi di tengeh-tengah masyarakat. Seperti
dikatakan Sapardi Djoko Damono (1978 : 8 ) bahwa karya sastra diciptakan oleh
satrawan untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Bahkan
apapun yang dilakukan sastrawan terhadap bahan-bahan yang telah dipilih dan
diambil dari kehidupan, tujuan seorang satrawan sudahlah pasti. Melalui
karyanya sastrawan memperluas, memperdalam, dan menjernihkan penghayatan
pembaca terhadap suatu isi kehidupan yang disajikan.
Bahasa
yang not benarnya adalah alat yang digunakan untuk berkomunikasi, menyampaikan
ide-ide, gagasan-gagasan, ataupun pikiran ternyata sastra juga tidak kalah
penting dalam pemanfaatan bahasa tersebut, sastrawan dengan medium bahasa dapat
memerlukan segala apa yang mengendap dalam benaknya ke dalam bentuk sebuah karya
sastra.
Sebagaimana diketahui
bahwa cerpen adalah suatu kreasi manusia yang diangkat dari realita kehidupan.
Cerita juga mampu manjadi wakil dari zamannya. Dengan demikian cerpen pada
dasarnya juga merupakan kegiatan peradaban maupun kebudayaan dari setiap
situasi, masa ataupun zaman saat cerpen dihasilkan.
Perbedaan antara cerpen
dan karya fiksi yang lain sebenarnya terletak pada panjang dan pendeknya isi cerita, kompleksitas isi
cerita, serta jumlah pelaku yang mendukung cerita. Sebagai karya prosa fiksi,
cerpen mempunyai unsur-unsur yang meliputi : (1) pengarang atau narator, (2)
isi cerita, (3) media penyampaian isi
berupa bahasa dan (4) elemen-elemen fiksional atau unsur-unsur intrinsik
yang membangun karya fiksi itu sendiri sehingga menjadi suatu karya seni (Aminudin,
2000 : 66).
Perlu
menjadi perhatian bahwa bahasa yang digunakan pada sastra dengan bahasa yang
digunakan pada ilmu pengetahuan ilmiah terdapat perbedaan. Bahasa sastra
memiliki segi ekspresif dan pragmatis yang dihindari sejauh mungkin oleh bahasa
ilmiah (Wellek & Werren, 1995 : 16). Badrun (tanpa tahun : 17) mengatakan
bahwa ilmu pengetahuan berhubungan dengan pengetahuan dan mengandung suatu
pengertian (denotatif), sedangkan bahasa seni bersifat perasaan dan mengandung
banyak tafsir. Berkaitan dengan bahasa yang digunakan sastrawan dalam karyanya,
tidaklah mengherankan bila pembaca karya sastra yang satu dengan pembaca karya
sastra yang lain akan memiliki tanggapan yang berbeda mengenai apa yang
dibacanya.
Di
samping faktor kebahasaan, faktor lain juga turut adil membentuk tanggapan terhadap
apa yang dibaca. Nyoman Tusthi Eddy (1985 : 61) berpendapat, untuk dapat
memahami karya sastra, seorang tidak cukup hanya menguasai ilmu sastra,
dasar-dasar ilmu pengetahuan dan berbagai pengetahuan praktis juga harus
dikuasai. Tanpa dasar ini pemahaman terhadap hasil sastra hanya menyangkut
luarnya saja.
Berkenaan
dengan itu untuk memahami bahasa yang digunakan sastrawan dalam karyanya, maka
diperlukan pemahaman ilmu linguistik. Kajian linguistik terhadap teks atau
wacana sastra merupakan bahasan dari ilmu stilistika. Dari hasil analis
sebelumnya ditemukan (1) gaya bahasa antiklimaks, klimaks, dan paralelisme yang
dilihat dari aspek kalimat. Gaya bahasa ini bisa digunakan semata-mata untuk
menarik perhatian pembaca, (2) dari aspek kata yang dijumpai gaya bahasa
retoris dan kiasan. Gaya bahasa retotis merupakan gaya bahasa litotes, ironi
(sarkasme), peleonasme, inuendo, eufemimus. Sedangkan gaya bahasa kiasan berupa
gaya bahasa personafikasi, metafora, hiperbola, sinekdoke (pars pro toto), dan paradoks.
Penggunaan bahasa ini ditujukan untuk menambah daya ekspresivitas, citraan yang
hidup dan kaya serta mesugesti pembaca, (3) dari gaya bahasa pemanfaatan aspek
bunyi ditemukan adanya pemolaan asonansi dan alitrasi serta kombinasi yang
memberikan pengetahuan terhadap nuansa yang diemban serta menjadi warisan bagi
penikmat cerpen (cerita pendek).
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan menjadi
bahasan dalam penelitian ini, antara lain :
1. Bagaimanakah unsur intrinsik
dalam cerpen ”Bidadari Senja”?
2. Gaya bahasa apa sajakah yang
terkandung dalam cerpen ”Bidadari” Senja?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin
dicapai penulis dalam penelitian ini yaitu :
1. Mendeskipsikan unsur intrinsik pada cerpen
”Bidadari Senja”.
2. Mendeskripsikan gaya bahasa apa saja yang
terkandung di dalam cerpen ”Bidadari Senja”.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil
penelitian ini diharapkan mempunyai manfaatkan secara teoretis dan praktis.
1.4.1 Manfaat Teoretis
1. Hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan motivasi kepada peneliti untuk mengembangkan penelitianya.
2. Sebagai bentuk pemahaman tentang cerpen
dan jenis-jenis gaya bahasa.
1.4.2 Manfaat Praktis
1.
Sebagai informasi pembelajaran mengenai makna gaya
bahasa dalam cerpen “Bidadari Senja”.
2.
Menambah daya apresiasi pembaca terhadap karya sastra
khususnya cerpen,
sehingga
tidak hanya sebagai pembaca namun diharapkan dapat menjadi
pencipta
maupun penelaah sebuah karya sastra.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Pengertian Prosa
Karya sastra prosa dapat
diklasifikasikan berdasarkan pembabakannya menjadi prosa lama dan prosa baru.
Prosa lama merupakan karya sastra yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau
kebudayaan barat. Karya sastra prosa lama yang mula-mula timbul disampaikan
secara lisan, disebabkan karena belum dikenalnya bentuk tulisan. Setelah agama
dan kebudayaan Islam masuk ke Indonesia, masyarakat menjadi akrab dengan
tulisan, dan bentuk tulisanpun mulai banyak dikenal. Sejak itulah sastra
tulisan mulai dikenal dan sejak itu pulalah babak-babak sastra pertama dalam
rentetan sejarah sastra Indonesia mulai ada.
1.
Prosa lama adalah prosa yang hidup dan berkembang dalam
masyarakat lama Indonesia jenis-jenis prosa lama adalah :
1.
Bidal adalah cara berbicara dengan menggunakan bahasa
kias.
2.
Hikayat berasal dari India dan Arab, yaitu bentuk
sastra lama yang berisikan cerita
kehidupan para dewi, peri, pangeran, putri kerajaan, serta raja-raja yang
memiliki kekuatan gaib, kesaktian dan kekuatan.
3.
Sejarah atau Tambo, berasal dari bahasa Arab, yaitu
dari kata sajaratun yang berarti pohon. Sejarah adalah salah satu bentuk prosa
lama
4.
Dongeng bentuk sastra lama yang bercerita tentang suatu
kejadian yang luar biasa dengan penuh
khayalan.
5. Kisah
karya sastra lama yang berisikan cerita tentang cerita perjalanan atau pelayaran
seseorang dari suatu tempat ke tempat lain.
2.
Prosa baru adalah karangan prosa yang timbul setelah
mendapat pengaruh sastra atau budaya barat. Bentuk-bentuk prosa baru adalah
sebagai berikut:
1. Roman
Roman adalah bentuk prosa baru yang
mengisahkan kehidupan pelaku utamanya dengan segala suka dukanya. Dalam roman,
pelaku utamanya sering diceritakan mulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa
atau bahkan sampai meninggal dunia. Roman mengungkap adat atau aspek kehidupan
suatu masyarakat secara mendetail dan menyeluruh.
2. Novel
Novel berasal dari Italia yaitu novella
‘berita’. Novel adalah bentuk prosa baru yang melukiskan sebagian kehidupan
pelaku utamanya yang terpenting, paling menarik, dan yang mengandung konflik.
3. Cerpen
Cerpen adalah bentuk prosa baru yang
menceritakan sebagian kecil dari kehidupan pelakunya yang terpenting, paling
menarik dan pendek.
4.
Riwayat
(biografi)
Riwayat (biografi),
adalah suatu karangan prosa yang berisi pengalaman-pengalaman hidup pengarang
sendiri (otobiografi) atau bisa juga pengalaman hidup orang lain sejak kecil
hingga dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. 5. Kritik
Kritik adalah karya yang menguraikan
pertimbangan baik-buruk suatu hasil karya dengan memberi alasan-alasan tentang
isi dan bentuk kriteria tertentu yang sifatnya objektif dan menghakimi.
6.
Resensi
Resensi adalah
pembicaraan/pertimbangan/ulasan suatu karya (buku, film, drama, dll.). Isinya
bersifat memaparkan agar pembaca mengetahui karya tersebut.
7.
Esai
Esai adalah ulasan/kupasan suatu
masalah secara sepintas lalu berdasarkan pandangan pribadi penulisnya. Isinya
bisa berupa hikmah hidup, tanggapan, renungan, ataupun komentar tentang budaya,
seni, fenomena sosial, politik, pementasan drama, film, dan lain-lain.
2.2 Pengertian Puisi Dalam Kamus Etimologi Bahasa Indonesia karya
Mohamad Ngajeng (1992 : 143) mengatakan bahwa puisi merupakan wujud karya
sastra tertua. Hal ini tidak mengherankan bila dilihat dari dejarah. Orang
dahulu lebih mengenal nyayian-nyayian, sajak-sajak bukanya prosa dan jenis
sastra yang lainya. Lewat pemujaan dimana di dalamnya terdapat nyayian
ditujukan kepada dewa-dewa pada hakikatnya adalah sebuah puisi.
a.
Puisi lama adalah
puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Jenis-jenisnya adalah :
1.
Mantra ucapan-ucapan
yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
2.
Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap
baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris
awal sebagai sampiran, 2 baris
berikutnya
sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat,
teka-teki, jenaka.
3.
Karmina adalah
pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
4.
Seloka
adalah pantun berkait.
5.
Gurindam
adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a,
berisi
nasihat.
6.
Syair adalah
puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris,
bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau
cerita.
7.
Talibun adalah
pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10
baris.
b.
Puisi baru
adalah bentuk puisi yang lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah
baris, suku kata, maupun rima. Jenis-jenis puisi baru adalah :
1.
Balada adalah puisi berisi kisah/cerita.
2.
Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air,
atau pahlawan.
3.
Ode adalah puisi
sanjungan untuk orang yang berjasa.
4.
Epigram
adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup.
5.
Romance
adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.
6.
Elegi adalah
puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan.
7.
Satire
adalah puisi yang berisi sindiran/kritik.
2.3 Pengertian Drama Pengertian tentang drama adalah cerita
atau tiruan prilaku manusia yang dipentaskan. Jika ditinjau dari kata drama itu
sendiri, drama berasal dari Yunani draomai (Harymawan, 1988 : 1) yang berarti
berbuat, berlaku, bertindak, bereaksi, dan sebagainya. Jadi drama berarti
perbuatan atau tindakan yang dipentaskan.
2.4.1 Unsur-unsur intrinsik Drama
Drama merupakan jenis karya sastra yang berbentuk percakapan. Unsur-unsur drama antara lain :
1.
Tema (inti
cerita) adalah pikiran pokok yang mendasari lakon drama.
2.
Amanat pesan moral yang
ingin di sampaikan penulis kepada pembaca naskah / penonton drama dalam pentas.
3.
Alur adalah rangkaian
peristiwa dalam drama.
4.
Tokoh adalah orang yang bermain peran.
2.4.2 Menulis Drama
Naskah drama adalah karangan yang berisi cerita, dialog yang diucapkan para
tokoh dan keadaan panggung yang diperlukan, juga sikap pelaku saat pentas. Naskah drama
ditulis dengan selengkap-lengkapnya, bukan saja berisi keterangan atau
petunjuk. Dalam drama
naskah merupakan jalinan cerita
(plot) drama, plot merupakan kerangka cerita dari awal hingga akhir.
Drama merupakan jalinan konflik
antara dua tokoh yang berlawanan. Selain itu, naskah drama juga memasukan unsur
intrinsik drama, naskah drama disampaikan dengan kalimat langsung yang memberi informasi mengenai latar, ekspresi, dan keterangan bagi pelaku.
3.1 Pengertian Cerpen
Yang dimaksud dengan
cerpen adalah sebuah karya prosa fiksi yang singkat, padat dan menyenangkan.
Cerpen juga menceritakan tentang sebagian
daripada kehidupan seseorang, sedangkan menurut Alwi
(2001:210) cerita pendek adalah :
1.
Tuntutan yang membentangkan
bagaiamana terjadinya suatu hal (peristiwa, kejadian atau fakta).
2.
Karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman atau penderitaan
orang (baik yang sungguh-sungguh terjadi maupun yang hanya rekaan balaka).
3.
Lakon yang diwujudkan atau dipertujukkan dalam gambar hidup
sandiwara, wayang dan sebagainya.
3.1.1 Ciri-ciri Cerpen
1. Pada umumnya cerpen itu pendek, beralur tuggal, jumlah
kata lebih
sedikit dibandingkan dengan novel.
2. Yang ditampilkan pengarang cerpen adalah hal-hal yang paling benar-
benar berat dan penting.
3. Isi cerpen singkat dan padat.
4. Dalam cerpen tergambar bagaimana tokoh ceritanya
menghadapi suatu
pertikaian dan apa tindakannya untuk menyelesaikan
pertikaian itu.
5. Sanggup meninggalkan pesan dalam hati pembacanya. (Agus,
1990 : 15).
3.1.2 Unsur-unsur Intrinsik
Natawidjaya (1992 : 102) berpendapat unsur intrinsik yaitu unsur-unsur rohaniah yang akan diangkat
dari karya sastra, baik mengenai tema dan arti yang tersirat di dalamnya.
Lebih rinci pendapat Sumardjo
(1983 : 54) bahwa unsur intrinsik meliputi :
1.
Tema
2.
Plot (alur
cerita)
3.
Tokoh
4.
Setting
5.
Gaya cerita
6.
Sudut pandang
7.
Sarana Cerita
Dalam unsur-unsur intrinsik sebuah
cerpen yang
membangun cipta cerpen (cerita) dari dalam cerpen itu sendiri. Unsur-unsur tersebut adalah
:
1.
Tema
Tema merupakan makna cerita, gagasan sentral atau dasar cerita yang hendak diperjuangkan
melalui tulisan karya cerpen. Adapun jenis tema yaitu (1) Tema pysikal atau
tema jasmanih, (2) tema organik atau tema moral, (3)
tema egoic atau tema egoik, (4) tema desine atau tema ketuhanan (Sumanto, 1998 : 118).
2.
Plot
Plot juga merupan
struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun secara logis, selain itu
plot adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalani secara seksama dan
menggerakkan jalan cerita melalui rumitan ke arah kalimat dan. Jalinan
peristiwa dalam sebuah karya cerpen untuk mencapai efek tertentu dapat
diwujudkan oleh hubungan temporal atau waktu dan hubungan kawsal atau sebab
akibat (KBBI, 1998 : 24).
3. Tokoh atau Perwatakan
Tokoh atau perwatakan
dalam suatu cerita adalah pemberian sifat pada pelaku yang terdapat dalam suatu
cerita diakibatkan oleh karena aksi para tokoh. Umumnya tokoh itu manusia atau
kadang-kadang binatang yang diumpamakan sebagai manusia (Chamdiah, dkk, 1978 :
8).
4.
Latar atau Setting
Latar atau seting adalah
keterangan melalui waktu luang dan suasana terjadinya pada karya sastra
(Depdikbud, 1998 : 501).
5.
Gaya Bahasa
Merupakan
kemahiran seorang pengarang dalam memilih kata-kata, kelompok kata, kalimat dan
ungkapan yang menentukan keberhasilan keindahan suatu karya yang menjadi
ekspresi dirinya, unsur yang membangun seorang pengarang meliputi diksi dan imajinasi
(Aminudin, 1987 :72).
6.
Sudut pandang
Sudut pandang dalam cerpen
menyangkut : (1) masalah penilaian terhadap peristwa-peristiwa yang akan
disajikan (2) kemana pembaca akan
diarahkan atau dibawa (3) menyangkut masalah apa yang harus dilihat oleh
pembaca dan (4) masalah kesadaran siapa yang disajikan.
7.
Sarana cerita
Sarana cerita merupakan hal-hal yang dimanfaatkan oleh pengarang dalam memilih dan menata detil-detil cerita.
3.1.3 Gaya Bahasa
Gaya bahasa merupakan pilihan kata dalam berbagai eksistensinya, pilihan
citra dan imajinasi mebentuk sebuah bahasa itu sendiri. Gaya bahasa dalam bahasa inggris diistilahkan style.
Style dapat diartikan sebagai teknik serta gaya bahasa seseorang dalam
memafarkan gagasan sesuai dengan ide dan norma yang digunakan sebagai ciri
pribadi pemakainya (Aminuddin, 1995 : 4). Difinisi ini diambil dari wawasan
retorika klasik. Dalam komunikasi moderen style tidak hanya dihubungkan
penggunaan bahasa yang indah, tetapi merujuk pada aspek bentuk dan isi yang
diembanya.
Gaya
bahasa selain dihubungkan dengan pengolahan bentuk kata, juga dihubungkan
dengan pengolahan gagasan, karena pengeolahan gagasan terkait dengan upaya penciptaan gagasan yang
jernih dan gaya melalui bentuk pengungkapan yang padat, utuh, dan imajinatif.
Gaya bahasa berdasarkan arti leksikalnya yakni (1) pemanfaatan atas kekayaan
bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis, (2) pemakaian agam-ragam
tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu,(3) keseluruhan ciri-ciri bahasa
keleompok penulis sastra, (4) cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan
dalam bantuk tulis atau lisan (Depdiknas, 2003 : 340).
Keraf
menyebutkan gaya bahasa merupakan bagian dari pilihan kata yang mempersoalkan
cocok dan tidaknya pemakaian kata, frase atau klausa tertentu, untuk menghadapi
situasi-situasi tertentu (1984 : ). Sedangkan Slamet Mulyana dalam Pradopo
(2002 : 93 ) mengatakan bahwa gaya
bahasa adalah susunan perkataan yang terjadi karena perasan yang timbul atau
hidup dalam hati penulis, yang menimbulakan perasaan tertentu dalam hati
pembaca. Berdasarkan kedua difinisi tersebut dapat dikatakan bahwa gaya bahasa
merupakan cara mengungkapkan sesuatu melalui medium bahasa guna mendapat
efek-efek atau tanggapan tertentu.
Wallace
L. Chafe (1973) juga mengungkapkan bahwa berfikir tentang bahasa, sebenarnya
sekaligus juga telah melibatkan makna. Meskepun demikian, karena makna memiliki
tiga tingkatan, akhirnya penentuan hubungan antara makna dengan bahasa ataukah
bahasa dengan makna, ternyata banyak menunjukkan silang pendapat. Mereka yang
menyikapi makna sebagai akar pengolahan pesan, meletakkan dan mengkaji makna
pada tingkatan abstraksi dan pengolahan proposisi.
Dalam
sebuah karya seni, gaya dikatakan sebagai gejala dengan tujun tertentu,
berkaitan dengan faktor produksi dan resepsi. Pada dasarnya sejarah seni
merupakan perkembangan gaya (Hauser, 1985 : 408-409). Gaya (Mayer dalam Lang,
ed 1987 : 21-22 ; Wimsatt dalam Wellek
& Werren, (1962 : 179) menambahkan gaya merupakan peniruan pola, baik
mengenai tiangkah laku manusia maupun produksi artefak oleh tingkah laku, yang
diakibatkaan oleh serangkaian pilihan, yang tejadi dalam perangkat pembatasan.
Maknanya bersifat kontekstual, kata-kata di samping memiliki makna leksikal,
juga zone sinonim dan homongen. Gaya indifidu misalnya, berbicara atau menulis,
merupakan bagian leksikal, gramatikal, pilihan sintaksis, dialek, dalam
semestaan bahasa yang sudah dipelajari, bukan merupakan ciptaan individu. Ini
juga beralaku dalam lukisan, musik, dan karya seni yang lain. Kata-kata
menggugah kesadaran pembaca untuk mengaitkanya pada kata-kata yang lain
bekaitan dengan bunyi atau makna kata tersebut.
3.1.4
Jenis-jenis Gaya Bahasa
Sampai saat ini sulit dicapai kata sepakat
mengenai batasan-batasan untuk membedakan gaya bahasa. Dalam kesulitan Keraf
mengajukan empat macam gaya bahasa berdasarkan titik tolak yang diperlukan
(19984 : 101-128). Keempat gaya bahasa tersebut yaitu :
a. Gaya Bahasa Berdasarkan Pilihan Kata.
Berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa
dibedakan menjadi (1) gaya bahasa resmi yaitu gaya dalam betuknya yang lengkap.
Gaya ini memanfaatkan secara maksimal perbendaharaan kata yang ada dan memilih
kata-kata yang tidak membingungkan, (2) gaya bahasa tidak resmi merupakan gaya
bahasa yang digunakan dalam bahasa standar, dan (3) gaya bahasa percakapan yang
menggunakan kata-kata popular dan kata-kata percakapan.
b. Gaya Bahasa Berdasarkan Stuktur Kalimat.
Gaya bahasa ini dapat dilihat dari (1)
struktur kalimat, (2) gaya bahasa. Berdasrkan struktural kalimat, maka
kalimat-kalimat dapat bersifat periodik, kendur, dan berimbang. Kalimat
periodik adalah kalimat yang gagasan utamanya terletak pada akhir kalimat.
Kalimat kendur adalah kalimat yang dimulai dengan gagasan yang penting. Kalimat
berimbang yatitu mengungkapkan dua hal atau lebih dalam kedudukanya yang
sederajat. Bila dilihat dari corak, stuktur kalimat, gaya bahasa diatas (1)
klimak’s adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang
setiap kali meningkat kedudukan sebelumnya, dan berfikir dengan gagasan yang
paling penting, (2) anti klimak’s merupakan kebalikan dari klimak’s (3) repetisi adalah perulangan kata-kata yang
penting atau kata-kata kunci untuk memberi tekanan pada sebuah konteks yang
sesuai, (4) paralelisme adalah semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai
kesejajaran dalam pemakain kata-kata atau frase-frase yang menduduki fungsi
yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama, dan (5) antithesis adalah gaya
bahasa yang mengandung gagasan- gagasan yang bertentangan, dengan penggunaan
kata-kata atau klompok kata yang berlawanan.
c. Gaya Bahasa Berdasarkan Nada.
Berdasarkan nada yang terkandung dalam
sebuah wacana atau rangkaian ujaran seseorang, maka dapat diadakan pembagian
atas (1) gaya yang sederhana, gaya ini biasanya cocok untuk memberikan
instuksi, perintah, pelajaran, perkuliahan, dan sejenisnya, (2) gaya mulia dan
bertenaga merupakan gaya yang penuh dengan vasilitas dan energy serta biasanya
digunakan untuk menggerakkan sesuatu, dan (3) gaya yang diarahkn kepada usaha
untuk menimbulkan senang dan damai. Walau telah dibedakan menjadi tiga gaya,
namun kemampuan bahasa seseorang tidak terbatas pada ketiga gaya bahasa
tersebut. Oleh karena itu gaya disini diuraikan dengan alasan bahwa seseorang
tidak mungking menggunakan gaya yang
sama pada suatu kesempatan yang mungkin bisa mengembangkan ketiga gaya bahasa
yang telah diuraikan tersebut.
d. Gaya Bahasa Bardasarkan Lansung Tidaknya
Makna
Berdasarkan lansung tidaknya makna, gaya dapat
dibagi menjadi gaya lansung atau gaya retoris dan gaya bahasa kiasan. Gaya
bahasa retoris termasuk gaya bahasa yang maknanya harus diartiakan menurut
nilai lahirnya. Gaya retoris ini dapat diklasifikasikan menjadi : (1) alitrasi
merupakan gaya yang penggunaan kata-kata yang dimulai dengan konsonan yang
sama, (2) anastrop adalan inverse atau pembalikan susunan kata-kata dalam
sebuah kalimat sehingga berkesan dari biasanya, (3) apotesis adalah sebuah gaya
di mana pengarang menegaskan sesuatu tapi nampaknya menyangkalnya, (4) afostrop
adalah semacam gaya yang bebentuk sebuah amanat yang disampaikan kepada sesuatu
yang tidak hadir, (5) asindeton adalah suatu gaya yang besifat padat dan
manfaat di mana beberapa kata yang sederajat berurutan, klausa-klausa yang
sederajat, tidak dapat dihubungkan dengan kata sambung, (6) kiasmus (chiasmus)
adalah semacam acuan atau gaya bahasa yang mengandung dua bagian baik frase
maupun klausa, yang sifatnya berimbang yang dipertentangkan satu sama lain,
tetapi susunan frase klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frase atau
klausa yang lainya, (7) elipsis adalah sebuah gaya dengan menghilangkan satu
kata atau lebih dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca
atau pendengar, sehingga struktur gamatikalnya memenuhi pola yang berlaku, (8)
eufemismus adalah semacam acuan berupa
ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung perasaan orang, atau ungkapan-ungkapan
halus untuk mengantikan acuan-acuan yang mungkin dirasakan menghina,
menyninggung perasaan atau mensugesti sesuatu yang tidak menyenangkan, (9)
histron porteron adalah semacam gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari
urutan yang wajar, misalnya menempatkan seseuatu yang terkahir pada awalnya,
(10) ironi adalah semacam acuan yang
ingin mengatakan sesuatu dengan makana atau maksud yang berlainan dari apa yang
terkandung dalam rangkain kata-kata itu, (11) litotes adalah semacam gaya
bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan untuk merendahkan
diri, (12) inuende adalah semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang
sebenarnaya, (13) periphrasis adalah semacam gaya atau acuan untuk menyatakan maksud
secara tidak lansung atau dapat dikatakan suatu cara yang abstrak untuk
mengungkapkan suatu yang dimaksud, (14) pleonasme atau tautelogi adalah acuan
yang memperguanakan kata-kata lebih dari yang diperlukan, (15) proleksis atau
atisipasi adalah semacam gaya bahasa di mana orang memperguanakan lebih dari
kata-kata atau sebuah kata-kata sebelum pristiwa atau gagasan yang sebenarnya
terjadi, (16) retotis adalah semacam pertanyaan yang diguankan dalam
pembicaraan atau penulisan dengan tujuan mencapai efek yang baik dan penekanan
yang wajar, yang tidak menghendakai adanya suatu jawaban, dan (17) sislepsis
dan zeugma adalah gaya di mana orang mempergunakan sepatah kata dalam hubungan
dengan kedua kata atau lebih yang disangka sama tetapi sebenarnya tidak.
Sedangakan bahasa kias adalah gaya yang
dilihat dari segi makna tidak ditafsirkan dengan kata-kata yang membentukanya.
Bahasa kias ini dapat dikasifikasikan menjadi : (1) persamaan atau smile adalah
perbandingan yang bersifat eksplisit, (2) metafora gaya di mana pokok pertama
lansung dihubungkan dengan pokok yang kedua, (3) personafikasi adalah semacam
gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang
tidak bernyawa seolah-olah mengerti sfat kemanusian, (4) alusi adalah semacam
acuan yang berusaha untuk mensugestikan kesamaan antara orang, tempat atu
peristiwa, (5) metonimi adalah suatu gaya bahasa yang memperguanakan sebuah
kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat
dekat, (6) sinokdoke adalah semacam kata figuratif yang mempergunakan sebagin
dari suatu hal untuk menyatakan keseluruhan untuk menyatakn sebagian, (7)
hiferbola adalah dengan memperbesar-besarkan suatu hal, (8) pradoks adalah
semacam gaya bahasa yang mengandung
pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada, (9) oksimora adalah
semacam acuan yang berusaha untuk menggabungkan kata-kata untuk mencapai efek
yang bertentangan, (10) hipalase semacam gaya bahasa di mana sebuah kata
tertentu digunakan unatuk menerangkan sebuah kata, yang seharusnya dikenakan
pada sebuah kata yang lain, (11) efonim adalah suatu gaya di mana seseorang
yang namanya terlalu sering dihubungkan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu,
(12) efitif adalah semacam acuan yang
berbentuk sebuah frase deskriptif yang menjelaskan atau menggantikan nama
seseorang atau suatu barang, (13) paronomasia adalah permainan kata-kata yang
didasarkan pada kemiripan bunyi tetapi tetapi terdapat perbedaan besar dalam
maknanya.
3.1.5
Unsur-unsur Ekstrinsik Cerpen
Nama Sakti Wibowa ini identik dengan sastra islami, agama, dan pendidikan
di dalam semua karyanya. ia piawai dalam mengeksplorasi bahasa dan sastra.
Kadang membuat pembaca terpana dengan cerpen-cerpen yang dirangkainya, tapi
tidak pernah lupa menyisipkan makna kehidupan di dalam karyanya.
Cerpen-cerpen
karya Sakti Wibowo memang selalu mampu membuat pembacanya merasa di dunia yang
tak terpikirkan sebelumnya. Ada sisi lain dari kehidupan yang terjelajahi hidup
ini dengan penuh hikmat. Sakti wibowo tergabung dalam Pipit Senja, juga sebagai
novelis, dan ikut serta dalam aktivis Forum Lingkar Pena.
4.1
Stilistika
Penulis perlu melengkapkan perlu
dijelaskan beberapa pandangan-pandangan tokoh mengenai stilistika, agar tidak
terjadi kesalah pahaman dalam kajian ini. Kridalaksana (1982: 157) menyatakan
”Stilistika merupakan ilmu yang menyelidiki bahasa dalam karya sastra, ilmu
interdisipliner antara linguistik dan kesusastraan atau penerapan linguistik
pada penelitian gaya bahasa.” Stilistika
merupakan gabungan dari dua ilmu yaitu bahasa dan sastra.
Stile
(style atau gaya bahasa) (Keraf, 1994: 113) adalah cara pengungkapan pikirar
melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian pengarang.
Stile pada hakekatnya merupakan teknik yakni teknik pemilihan ungkapan
kebahasaan yang dirasa dapat mewakili sesuatu yang akan disampaikan atau
diungkapkan. Stilistika berasal dari Bahasa Inggris yaitu “Style” yang berarti
gaya dan dari bahasa serapan “linguistic” yang berarti tata bahasa. Stilistika
menurut kamus Bahasa Indonesia yaitu Ilmu Kebahasaan yang mempelajari gaya
bahasa.
Pembicaraan mengenai gaya bahasa sebagai cara
mengunkapkan sesuatu guna mendapatkan efek atau tanggapan tertentu merupakan
ilmu stilistiaka. Stilistika di dalam bahasa inggris stylistics (style –istic,
- 0-) adalah cabang dari linguistik yang memepelajari cirri-ciri pembeda secara
situasional sebagai varietas bahasa, dan stilistika mencoba menyusun
prinsip-prinsip yang ditimbulkan untuk pilihan tertentu, disusun oleh individu
atau klompok sosial dalam menggunakan bahasanya (T. Fatimah Djajasudarma 1993 :
18).
Linguistik merupakan dua sisiplin ilmu yang
berbeda. Namun dalam perkembanganya
kedua disiplin ilmu ini dapat saling mengisi dengan lainya ilmu
stilistika. Stilistika merupakan cabang dari linguistik yang membahas (salah
satu) penggunaan bahasa oleh pengarang dalam sebuah karyanya. Dengan begitu
silistika dapat menghubungkan linguistik dan satra. Hal ini senada dengan
pendapat H. G. Widdoson bahwa stilistika adalah suatu bidang yang menjembatani
kedua disiplin ilmu di atas. (1997 : 4).
Stilistika
merupakan kajian linguistik pada wacana sastra, maka yang menjadi
permasalahanya adalah bagaimana cara sastrawan memanipulasi (dalam arti
memanfaatkan) potensi dan kaidah yang terdapat pada bahasa serta memberikan
efek tertentu. Disamping itu, stilistika meneliti ciri khas penggunaan bahasa
dalam wacana sastra ; meneliti devinisi atau penyimpangan terhadap tata bahasa
sebagai sarana literer ; stilistika meneliti fungsi puitik suatu bahasa (Sudjiman
dalam Depdikbut, 1999 : 26).
Kajian bahasa dalam stilistika bukan
kajian yang sederhana, melainkan kajian yang harus diartikan dalam konteks yang
luas. Pendapat tersebut didukung oleh Semi yang menyatakan bahwa:
Di dalam pendekatan stilistika, kajian
bahasa harus lebih mendalam, sampai kepada menggunakan bahasa simbolik,
kemampuan penglihatan kata, hingga penemuan berbagai kemungkinan penafsiran.
Analisis kebahasaan juga diarahkan pada masalah pemakian kata dalam kalimat,
kalimat dalam paragraf, paragraf dalam wacana. Tidak dapat pula dihindari
analisis mengenai pemakaian ragam bahasa, dialek, atau laras bahasa. Analisis
ditujukan pula ke arah membuka tabir kekaburan yang sering dijumpai pada karya
tersebut. (1990: 82)
Dalam stilistika dikenal pandangan (i)
monuisme, (ii) dualisme, (ii) dan (iii) pluarisme. Pandangan monuisme menyikapi
wujud penggunaan system tanda sebagai kesatuan antara bentuk dan isi. Dualisme
menyikapi bentuk dan isi sebagai dua unsur yang berbeda. Sedangkan pluralisme mendekati
gejala penggunaan bahasa dengan mendasar pada fungsinya (Amimuddin, 1995 :
53-54).
Dick Hartanto dan B. Rahmanto (1980 :138)
dalam Prodopo, 2002 ; 256) mengemukakan bahawa dalam stilistika, ilmu yang
meneliti gaya bahasa, dibedakan antara deskriptif dengan genetis. Stilistika deskriptif
mendekati gaya bahasa secara keseluruhan gaya ekspresi khusus yang terkandung
dalam suatu bahasa (lengue), yaitu secara marfologis, sintaksis, dan
sistematis. Adapun stilistika genetis adalah stilistika individual yang
mengandung gaya bahasa sebagai suatu ungkapan yang khas pribadi.
Pada penelitian ini, akan dibahas gaya
bahasa berdasarkan pengertian stilistika deskriptif. Jadi gaya bahasa
dibicarakan secara khusus yaitu dari segi limu stilistika yang menyangkut gaya
bahasa dalam aspek kalimat, kata, dan gaya pemanfaatan aspek bunyi, di mana
intonasi diabaikan karena yang diteliti adalah bahasa tulis serta secara
obyektif yaitu sesuai dengan apa yang terdapat dalam sumber data/dokumentasi tertulis
( Cerpen Bidadari Senja ).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Sumber Data
Sumber data yang diambil dalam penelitian ini adalah
Cerpen Bidadari Senja. Melihat Cerpen Bidadari Senja ini ketertarikan saya
untuk menelitinya, sampel gaya bahasa ini diambil dengan teknik porpusive
sampling yaitu dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Berdasarkan teknik
tesebut sample gaya bahasa yang terpilih dianggap dapat mewakili Cerpen
Bidadari Senja
3.2
Metode Pengumpulan Data
Metode merupakan alat, prosedur dan
teknik yang terpilih dalam melaksanakan penelitian (dalam mengumpulkan data). Penelitian
bertujuan mengumpulkan dan mengkaji data, serta mempelajari fenomena-fenomena
gaya bahasa dalam cerpen. Di lapangan seorang akan melibatkan hubungan penelitian
dengan apa yang akan ditelitinya lebih
lanjut sebagai sumber data yang diperoleh.
Titik tolak suatu pelelitian akan
terjadi melalui kepustakaan (studi pustaka) yang dikaitkan dengan gejala-gejala
kebahasaan yang muncul dan mengakibatkan pertanyaan: mengapa demikian, dapatkah
diteliti melalui data secara tuntas? Bila gejala tersebut merupakan penelitian
lanjutan, maka apa yang telah diteliti sebagai penelittian pemula harus dilihat
kekosongan yang terjadi atau bila dilakukan melalui pendekatan teori yang
berbeda apakah hasilnya akan sama atau berbeda? Penelitian melibatkan kaidah-kaidah (fenomena-fenomena)
sebagai hasil penelitian deskriptif dengan metode kajian berdasarkan
teori-teori tertentu.
Metode penelitian dapat dikelompokkan berdasarkan
kriteria teknik dan prosedur, berdasarkan prosedur atu teknik. Sejak tahun 1914
telah muncul ahli-ahli yang membagi penelitian ke dalam kelompok-kelompok
tertentu, dan antara tahun 1914-1931 terdapat empat buah metode yang disukai,
yakni metode eksperimen, sejarah, deskriptif, dan kuesioner. Crawfurdn (1928)
mengelompokkan
Penelitian ke dalam 14 jenis berdasarkan
kriteria metode dan teknik, yakni : (1) eksperimen (2) sejarah (3) pisikologi
(4) studi kasus (5) survei (6) membuat kurikulum (7) analisis pekerjaan (8)
interviu (9) kuisioner (10)observasi (11) pengukuran (12) statistik (13) tabel
dan grafik (14) teknik dan perpustakaan.
Nazir membedakan antara metode dan
teknik dalam sebuah penelitian. Metode penelitian memandu seorang peneliti tentang urutan-urutan bagaimana
penelitian dilakukan. Sedangkan teknik
penelitian mengatakan alat-alat pengukur apa yang diperlukan dalam melakukan
suatu penelitian (1999 : 51).
Melihat obyek dan sumbar data dalam
penelitian ini maka penulis perlu menegaskan metode yang akan diguanakan dalam
pengumpulan data yaitu metode observasi dan metode dokumentasi.
1. Metode Observsai
Metode observasi dimaksudkan untuk
mencari dan mengkaji data melalui teks (Cerpen Bidadari Senja) dengan mengandalkan
kesadaran dan intuisi penulis dengan melalui tahapan-tahapan persepsi yaitu
menanggapi cerpen dalam hal gaya bahasanya, rekognisi yaitu mengenali data yang
sudah ditanggapi dengan mencocokkanya dengan teori yang akan digunakan oleh
seorang peneliti, dan interpretasi yaitu menafsirkan data sesuai dengan
keseluruhan isi cerpen (tempat data ditemukan). Proses ini penulis melakukan
dan mengenali data yang relevan dengan masalah penelitinya.
2. Metode Dokumentasi
Setlah
melalui tahap observasi penulis melanjutkan pengumpulan data dengan menggunakan
metode dokumentasi yaitu mengumpulkan data-data yang bersumber dari data-data
tertulis atau secara dokumentasi tertulis.
3.3
Metode Analisis Data
Data yang telah menjadi obyek penelitian
ini, dianalis berdasarkan satuan-satuan tanda yang bermakna dengan tidak melupakan
keberhubuangan fungsi struktural tiap-tiap satuan tanda tersebut.
Pengumpulan
data-data disamping bisa diperoleh melalui penerapan metode-metode yang
berbeda, juga melalui penggunaan metode yang sama pada waktu yang berbeda. Data
dapat dikumpulkan pada titik-titik waktu yang berbeda dan konteks situasi
ataupun latar yang bervariasi. Disamping itu, data terkadang-kadang berkait
dengan tingkat-tingkat analisis sosial yang berbeda: tingkat individual,
tingkat interaktif dan kolektif. (Brannen dan Moss, 1991).
Sebelum menganalis cerpen tersebut,
terlebih dahulu dimengerti maknanya dengan pembacan simiotik. Pembacaan
simiotik berupa pembacaan heuristik dan pembacaan retroktif atau hermenutik.
Pembacaan heuristik adalah pembacan menurut sistem simiotik tingkat pertama,
yaitu pembacaan menurut konvensi bahasa. Pembacaan heuristik ini bertujuan
untuk mengembalikan gaya bahasa dalam cerpen ini ke dalam stuktural bahasa yang
normatif. Sedangkan pembacaan retrorik atu hermenutik adalah pembacaan ulang
dengan memberikan tafsiran (Pradopo, 2002 :268). Setelah cerpen tersebut
siketahui maknanya, baru analisis dilanjutkan pada gaya bahasa dalam Cerpen
Bidadari Senja tersebut.
BAB IV
PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
4.1 Data
4.1.1
Deskripsi Data
Data
ini diambil dari sebuah cerpen yang berjudul Bidadari Senja yang dirilis
penulis Sakti Wibowo dan diterbitkan media cetak Gema insani pada Februari
2005, jumlah halamanya sendiri yaitu 178 halaman, dan merupakan cetakan yang
pertama bagi penulisnya. Penyuting cerpen ini bernama Woro Lestari, cover depan
cerpen ini bertuliskan kumpulan cerpen Bidadari Senja Sakti Wibowo, warna cover
depanya orange keabu-abuan dan terdapat gambar wanita berjilbab abu. Nama Sakti
Wibowo sendiri identik dengan karya-karya islami. Dia sendiri piawai
mengeksplorasi bahasa dan rasa yang indah. Sakti Wibowo merupakan penulis yang mampu membuat pembaca merasa berada di dunia
yang tak terpikirkan sebelumnya. Ada sisi lain kahidupan ini yang terjelajahi
dengan karya-karyanya.
4.1.2 Sinopsis Cerita
Senja masih mengiblatkan perak cahayanya.
Berkejap-kejap di langit yang berrak awan-awan
tembaga. Aku menyeka peluh dan air mata kese-kian yang luruh. Aku ingin
tersenyum untukmu, Yunda. Senyum peling
ikhlas yang pernah kumiliki. Senyum kekaguman dan rasa iri yang
mendentam-dentam. Tapi, bisakah kau mendengarnya? Tentu saja aku percaya dengan
firman Allah bahwa kini aku dilimpahi anugrah di sisi-Nya, sebagai janji untuk
para syuhada. Yunda, mengingatmu dalam geletar lara yang mencabik-cabik nurani,
aku masih terpaku pada kepedihan yang manusiawi.
“Kita
pulang, Dik…!” tangan lembut Mas Wisnu merengkuh Padakku. Kupaksakan menegakkan
kepala kendati terasa berat hendak menceraikanya dengan pusaranmu yang anggun
dan merah basah. Seperti tak percaya rasa di senja ini aku telah kehilangan seorang
kakak yang begitu berharga dalam hidupku. Aku ingat, Yunda…, kaulah yang
pertama kali mengenalkan kaffahnya Islam kepadaku. Kau menuntunku untuk
mangenal-Nya, hingga benar-benar tanganku bersentuh dengan agung firman-Nya.
Aku tenggelam bersamamu mencoba mensibghah diri dalam celupan-Nya. Yunda…,
galau yang kurasa ketika usia menyenyentuh kepala tiga, dan melarika masa
lajangmu begitu jauh menghitung panjang dunia, adalah sebagian sesak yang juga
membuat aku berlama-lama memanjatkan harap.
Kau
yang sarjana dan memiliki pekerjaan sebagai Guru SLTP, telah lewat usia tiga
puluh. Tak kunjung dating seorang “perwira” yang menggenapkan separuh dinmu.
Sungguh lama nian perhitungan waktu menunggu itu. Bapak dan ibu yang tinggal
diluar Jawa karena mengikut program transmigrasi tak henti mengajukan
“pendaftar” yang salama itu pula kau menolaknya.
Misalnya,
Jayus yang pengusaha dengan bisnis-bisnis yang tak jelas halal-haramnya. Kau
hanya menggelengkan kepala atas sederet saran bapak tentang kebaikan Jayus.
Harap, seseorang bintang film kondang dengan mobil dan rumah luks milik
pribadi, berada pada nomor berikutnya. Dan kembali, kau menggeleng.
“Apa
yang kau mau ?”
“Yang
sefikrah, Pak. Islam dan mengerti haki-
kat keislamanya.”
Nendar,
putra bupati, mengikut daftar antrean.
Namun
ketika belum sampai lamaran, mata Nen-
Dar
yang jelalatan kembali membutmu kembali me-
Ngibaskan
tangan dihadapan bapak.
“Ia
tidak menghargai wanita, Pak.”
Ah,
biru….
Surat bapak bertubi-tubi dating
mengarungi jarak Sumatra-Jawa hanya untuk mengantarkan nama-nama pelamar yang
sebanyak surat itu pulalah kau menjawab “tidak”. Bapak marah besar ketika kau
tetap bersikeras menolak Yudi, seorang politisi yang tanpa sepengetahuanmu
telah meminang dan memberikan cincin pertunangan. Bapak berfikir bisa memaksamu
dengan cara itu.
Tapi,
Yunda…. Aku tak pernah khawatir kau akan menyerah dengan kengototan bapak. Dan
bukankan semua itu terbukti? Nenek yang turut menguatkan semangat kita
menentang bapak tak putus-putus mengingatkan usiamu.
“Barangkali
bapakmu malu karena berpikir kau enggak lalu, Nduk.”
Ketika
itu kutatap wajahmu, Yunda. Kupikir benarkah paras itu dibawah standar pasaran?
Tak juga. Jika saja ada biro iklan yang melihatmu tentu kau sudah ditawari
menjadi bintang iklannya. Sopan santun? Nyata sekali tergambar dalam prilakumu.
Sebagai buktinya adalah dengan kau hanya sedikit mengangkat bahu menanggapi
kalimat Nenek.
“Galuh
yakin, Allah akan mendatangkan jjodoh-Nya, Nek.” Dan Nenek tersenyum. Meluas
sabarnya.
“Jangan
berpikir Nenek seperrti bapakmu, Nduk. Bahkan Nenek yakin, kau akan bersanding
dengan seorang yang saleh yang indah dan tawadhu’ di hadapan Allah.” Sunyum
samar. Tak kupungkiri dia sela kukuh karang tekadmu, kau tengah mencoba
bertahan dari kerapuhan meniti predikat yang melekat dengan beegitu miring
“Perawan Tua”
Yunda,
jika bisa rasanya ingin kupenuhkan selubuk kesabaran untukmu. Tapi kurasa aku
sendiri tengah menyusun diri dari pintalan-pintalan kerapuhan dan mencoba tetap
bertahan pada keyakinan, Allah ‘kan mendatangkan seorang jodoh yang baik
kepadamu. Barangkali benar kini kita tengah berada pada ambang batas kesabaran
itu. Tetapi ketika menguras kesabaran itulah, kita harus yakin Allah akan
mendatangkan pertolongan.
“Kau
mengenalnya, Dik?” tanyaku ketika aku mencoba menyampaikan lamaran seorang
ikhwan teman kuliahku.
“Wisnu?”
Kau
tersenyum.
“Ya.
Siapa lagi? Bukankah kau hendak memprotes ta’arufnya?”
“Tentu
saja, Yun, “ jawabku enteng.
“Kalau
begitu begitu beritahu aku tentang data-datanya.”
“Satu
tahun lebih tua dari Yunda. Tapi berhubung studinya terhambat, sekarang baru
proses skripsi. Bekerja sebaai buruh di sebuah pabrik konveksi,” jelasku datar.
Kau
hanya diam tanpa komentar.
“Bagaimana?”
“Yang
kau sampaikan tadi informasi yang tak perlu.”
Aku
terkekeh memahami tujuannya. “ Keluarganya baik-baik. Mengenal Islam dengan
baik, aktivis kampus, dan memiliki ghirah yang tinggi dalam Islam.”
“Validitasnya?”
“Valid,
insya Allah, Informannya orang yang terpercaya yang mengerti benar kehidupan
kesehariannya. Cuma….”
“Apa?”
“Jasmaniahnya….”
Kau
menjenggung kepalaku dengan saying.
“Enggak
secakep kandidat yang ditawarkan Bapak?”
“Huuu….”
“Terus?”
Nafasku
setengah bertahan. “Tangannya cacat sebelah, Yun. Ketika kecilnya terkena
penyakit pholio.”
Dan
sekali lagi aku mengempaskan legaku demi melihat kau tak bereaksi sedikitpun
dengan hal itu. Lantas pelan-pelan kau bergumam, “ Jika telah datang meminang
seorang wanita, laki-laki yang tidak diragukan lagi keimanannya, pantaskah bagi
wanita itu menolaknya? Padahal bagi lelaki itu telah disediakan oleh Allah
bidadari-bidadari surge yang cantik jelita. Apakah wannita itu lebih cantik
daripada bidadari surge sehingga berai menolaknya?”
Tak
ada masalah dengan nenek. Bahkan ketika Mas Wisnu bekunjung kerumah dalam
proses ta’aruf, nenek berlama-lama ngobrol dengan pribadi santun yang
mengagumkan itu.
Tapi
tidak dengan bapak. “Hanya seorang yang tidak memiliki pekerjaan yang kau
pilih, Galuh? Kau ini bagaimana? Dia bisa membarikan apa kepadamu?” Dentaman
suara bapak di telepon membuat matamu mengembang air mata. Kau coba menahan
tangis.
“Bagaimanapun,
saya hanya ingin seorang yang bisa membimbing saya dalam Islam ini, Pak.”
“Islam,
Islam… dan selalu Islam saja yang kau jadikan alasan. Kau pikir bisa hidup
hanya dengan itu?”
“Tapi
dia baik, Pak….”
Barangkali
karena tak menghendaki kau semakin tua melajang, Yun…, akhirnya bapak
mengiyakan. Kemaran dan ketersinggungan tak bisa disembunyikan dari logat
bicara bapak. Bahkan dengan sangat tega, bapak mengatakan tak akan pulang kalau
Yunda hanya menikah denga seorang buruh rendahan.
Kali
ini pecah tangismu, Yun….
Aku
meraih ganggam telepon dan mencoba mengeraskan suara untuk menyaingi tinggi
suara bapak. “Kalau Bapak tidak pulang, siapa yang akan menikahkan Yunda Galuh,
Pak?”
Bapak
tertawa mengejek. “Dia pikir aku masih kepakai? Lha wong omongan bapaknya sudah
enggak mau diturut, dia pikir sudah bisa berjalan sendiri. Biarin saja tau
rasa, mbakyumu itu.”
“Pak,
apakah itu tindakan seorang bapak yang bijak?” sindirku tajam.
“Apa
maksudmu.”
“Yunda
telah banyak mengerti terhadap Bapak. Sekarang ini Bapak yang berusaha
memaksakan kehendak Bapak dengan memanfaatkan ketidakmampuan Yunda. Ini namanya
adigang-adigung, Pak….”
“Tahu
apa kamu anak kecil?”
“Ini
pernikahan, Pak. Ini permasalahan orang dewasa. Kenapa Bapak tidak menyikapinya
sebagaimana sikap seorang dewasa dan berlapang dada?”
“Kamu
ini maunya apa?”
“Yunda
dinikahkan oleh wali nasabnya, bukan dengan wali hakim. Kalau sampai Bapak
tidak datang, Yunda akan menikah dengan wali hakim. Sedangkan wali hakim hanya
berlau jika wali nasab tidak ada. Apakah Bapak rela diangap tidak ada dalam
acara paling sakral dalam hidup anak Bapak?”
“Kamu
kan bisa menikahkan mbakyumu mewakili aku?”
Saya
tercenung. Saya? Benar juga. Qaul bapak yang semacam itu telah dengan
sendirinya memindahkan hak menikahkan tersebut kepadaku. Ini benar menurut
syariat. Maka kusentuh tangan Yunda dan mencoba menengankannya. “Tenanglah,
Yunda…, aku akan menjadi walinya nanti.”
Tapi
apa lacur, ketika foto pengantin dikirimkan kepada bapak dan ibu di Sumatra,
dan secara utuh menampakkan cacat Mas Wisnu, seminggu kemudian tubuh jangkung
bapak menjulang dipintu kamar Yunda.
“Kamu
harus bercerai dengan suamimu.”
“Tidak…!”
“Memalukan.
Kau telah menipu Bapak dengan semua hal ini.”
“Tapi?”
Mas
Wisnu tergopoh-gopoh barusan pulang dari kerja. Namun tamparan bapak mendarat
telak di pipinya dan ia terjengkang. Kau meratap memeluk kaki meja. Tapi
bapak sengguh dengan paksa menyeretmu.
Aku
menangis. Nenek bahkan sampai sakit berminggu-minggu sejak kau dibawa paksa
bapak pergi ke Sumatra. Yunda….
Tapi
sungguh kurasakan telah begitulah Allah mengatur jodoh. Kesabaranmu yang luar
biasa, ternyata memang pantas bersuamikan seorang lelaki saleh yang prasaja dan
juga memililki kesabaran yang menggunung.
Mas
Wisnu meninggikan qiyamahnya dan bermunajat dengan berbata-bata. Mengiriskan
hati. Hingga di suatu hari kulihat kenekatan yang tak kusangka-sangka. Setelah
satu bulan membiarkanmu, Mas Wisnu menyusul ke Sumatra.
“Bagaimanapun
ia istriku, Dik….’
Ya.
Taat kepada suami lebih utama. Bahkan jika dibenarkan seorang manusia bersujud
kepada manusia, akan diperintahkan seorang istri bersujud kepada suaminya.
Tentu
saja terjadi pertengkaran yang luar biasa di sana. Yang kutahu hanya engkau
pulang dalam keadaan kurus kering dan kusut. Wajahmu memucat. Apalagi kandungan
mudamu bermasalah karena begitu seringnya menempuh perjalanan jauh.
Dan
kini telah kau penuhkan janjimu itu, Yunda…
Saat
usia kandunganmu mencapai tujuh bulan, bapak datang lagi dan memaksamu untuk
bercerai dengan Mas Wisnu. Lagi-lagi ketika Mas Wisnu tak ada di rumah. Aku
mencoba menahan tangan bapak yang menyeretmu dengan kasar. Kandunganmu yang tak
begitu tampak karena kebiasaanmu memakai jubah-jubah gombrang, juga memang
karena kondisi tubuhmu yang kurus dan melemah, tak dimengerti oleh bapak.
Bapak
hanya terpana melihat kau merintih-rintih memegang perut saat kau terjatuh dari
tangga kerena tarikan tangannya yang begitu kuat. Bapak melenguh-lenguh dalam
sesal ketika darah melebar ke lantai, dan sebuah ambulans dipanggil cepat.
Semua
hanya upaya. Takdir Allah berlaku di atas semuanya. Upaya manusia terbatas oleh
takdir tersebut. Dan kau sungguh bagian dari keterbatasan manusia tersebut,
Yunda. Kandunganmu yang memaksa lahir sebelum waktunya. Bayi mungil itu selamat
kendati dalam keadaan payah dan memerlukan perawatan medis yang intensif. Namun
perjuanganmu dalam sisa-sisa tenaga perang sabilmu yang pertama….
Barulah
sabilmu yang pertama, Yunda. Dan Allah telah mengaruniakan syahid kepadamu.
Aduhai betapa irinya. Betapa inginya berpangkat sepertimu. Dalam perjuanganmu
hingga detik akhirnya menyempurnakan pengabdianmu kepada-Nya. Hanya kapada-Nya.
Kulihat
senja yang semakin melintas, merenang
menuju malam. Di senja yang terakhir seperti kulihat baying
bidadari-bidadari surge yang bersunting melati-melati tujuh mahkota dan
berselendang aneka warna. Kau… adalah satu dari bidadari itu.
4.1.3 Tokoh-Tokoh dalam Cerpen Bidadari Senja
1.
(Yunda) guru SLTP berusia 30 tahun belum menikah. Ayunda mempunyai bapak yang
ingin cepat melihatnya menikah dengan cara mencari dan menjodaohkan ayunda
dengan beberapa pria pilihanya tapi semua ditolak dan menjatuhkan pililhanya
terakhirnya pada wisnu walaupun bapaknya tidak setuju.
2. (Wisnu) adalah pria yang baik aktifik
kampus dan orangnya mengenal Islam dengan baik. Wisnu yang mengajarkan arti
Islam kepada Yunda walaupun tanganya cacat waktu masa kecilnya terkena penyakit
pholio.
Wisnu menjadi pilihan terkhir dan menjadi
suami dari Yunda, walaupun banyak mendapat pertentangan dan perlakuan tidak
baik dari bapaknya Yunda serta tidak direstui karena wisnu hanya seorang
buruh paprik konveksi.
3.
(Bapak) orang yang menentang hubungan Yunda dengan Wisnu karena wisnu hanya
buruh konveksi dan tanganya cacat karena penyakit masa kecilnya yaitu pholio,
bapaknya Yunda ini juga tidak mau menjadi wali di acara penrikahan sakral Yunda
dan Wisnu
4.
(Nenek) orang yang selalu mesupot keputusan Yunda dan memberikan segala
dukungan kepada Wisnu, nenek juga yang
menguatkan semangat Yunda untuk menikan dengan Wisnu orang yang saleh,
dan indah keislamanya.
5.
(Adik) adalah orang yang mewakili dan menjadi wali pernikahan Yunda dan
menentang perintah bapak yang tidak merestui hubungan Yunda dengan Wisnu
6.
(Jayus) calon pilihan bapak yang ditolak Yunda dengan bisnis-bbisnis yang tak
jelas hala-haramnya.
7.
(Nendar) anak seorang bupati calon pilihan bapak yang kedua itu pun di tolak
oleh Yunda karena waktu lamaran Nendar ini matanya jelalatan kesana kemari dan
tidak menghargai Yunda ketika lamaran terjadi
8.
(Yudi) seorang politisi dan juga calon yang ingin melamar dengan memberikan
cincin kepada Yunda tapi yunda menolaknaya walaupun tanpa sepengetahuan bapak.
4.1.4 Dialog Dalam Cerpen Bidadari Senja
Yunda : ”Kau mengenalnya, Dik? ’’
tanyamu sambil mencoba menyampaikan
lamaran ikwan teman kuliyaku. ’’Wisnu ? kau tersenyum.
Adik : ”Ya siapa lagi?
Yunda : Bukankah kau hendak memperotes
ta’arufnya?”
Adik : ”Tentu saja, Yun,”
jawabku tenang.
Yunda : ”Kalau begitu bertahu aku
tentang data-datanya.”
Adik : ”Satu tahun lebih tua
dari Yunda. Tapi berhubung studinya
terhambat,
sekarang baru proses skripsi. Bekerja sebagai buruh disebuah pabrik
konveksi.” jelasku daftar. Kau hanya diam tanpa komentar. Bagaimana?”
Yunda : ” Yang kau sampaikantadi
informasi yang tak perlu.”
Adik : Aku terkekah memahami
tujuanya. Keluarganya baik-baik.Mengenal
Islam dengan baik, aktivis kampus, dan memiliki ghirah yang tinggi
dalam Islam.”
Yunda : ”Validitasnya?”
Adik : ”Valid, insya Allah.
Informanya orang yang terpercaya yang mengrti
benar kehidupan. Cuma....”
Yunda : ”Apa?”
Adik : ”Jasmaninya....”
Yunda : Kau menjenggung kepalaku
dengan sayang.
Adik : ”Enggak secakep
kandidat yang ditawarkan Bapak?”
Yunda : ”Huuu....”
Adik : ”Terus?” Nafas setengah
bertahan. ”Tanganya cacat sebelah, Yun. Ketika
kecilnya terkena penyakit
pholio.”
4.1.5 Ragam Gaya Bahasa dalam Cerpen Bidadri Senja
Gaya
bahasa dapat dikatagorikan dalam barbagai cara. Lain penulis lain pula
klasifikasi yang dibuatnya. Dr. Gorys Keraf telah memperbincangkan jenis-jenis
gaya bahasa dengan sangat terperinci dalam bukunya ”Diksi dan Gaya Bahasa”
(1985 : 112-145).
Majas
dapat diartikan sebagai kekayaan bahasa seseorang (awam maupun sastrawan) yang
dimanfaatkan dalam berkomunikasi (lisan maupun tulisan) untuk mencapai
efek-efek tertentu, baik efek semantik maupun efek estetik (Depdiknas,
2005:11). Scharbach dalam (Aminuddin, 2004: 72) menyebut gaya “sebagai
hiasan, sebagai sesuatu yang suci, sebagai sesuatu yang indah dan lemah gemulai
serta sebagai perwujudan manusia itu sendiri”.
Gaya dari istilah bahasa Inggris style yang berasal dari bahasa Latin
stilus yang memiliki arti dasar “alat untuk menulis”; secara konsepsional gaya
berarti cara, teknik, maupun bentuk yang digunakan pengarang untuk menyampaikan
gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis yang dapat
menyentuh pikiran dan perasaan pembaca ( Tengsoe Tjahjono, 1988:151).
Secara singkat dapat dikatakan bahwa
“gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang
memperlihatkan jiwa dan keperibadian penulis (pemakai bahasa). Sebuah gaya
bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur berikut : kejujuran, sopan-santun,
dan menarik (Keraf, 1985 : 113).
4.1.5.1 Personafikasi
Personafikasi besal dari bahasa Latin yaitu
persona (orang, atau pelaku, aktor, atau topeng yang dipakai dalam drama), maka
dari itulah apabila kita menggunakan gaya bahasa personafikasi, kita dapat
memberikan ciri-ciri atu kualitas, yaitu kualitas pribadi orang kepada
benda-benda mati atau barang yang tidak bernyawa atupun gagasan-gagasan (Dale
[et al], 1971 : 221).
Dengan
perkataan lain, personafikasi merupakan gaya bahasa yang melekatkan sifat-sifat
insani kepada barang yang tidak bernyawa, atau benda mati dan ide yang bersifat
abstrak.
Penggunaan
gaya bahasa Personafikasi pada cerpen Bidadari Senja, karaya Sakti Wibowo
berjumlah 2 gaya bahasa personafikasi, yaitu pada halaman 7 dan 18.
1. Senja masih mengiblakan perak
cahayanya. Berkejap-kejap dilangit yang berarak awan-awan tembaga. Aku
meyeka peluh dan air mata kesekian
yang luruh. Aku ingin tersenyum untukmu, Yunda. (halaman 7)
2. Kulihat senja semakin
melintas, merenang menuju malam. (halaman 18)
4.1.5.2 Hiperbola
Hiperbola
adalah jenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan
jumlahnya, ukuran atau sifatnya dengan maksud memberi penekanan pada suatu
pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya
gaya bahasa ini melibatkan kata-kata, frase atau kalimat (Tarigan, 1984 : 143 ;
Tarigan, 1985 : 186).
Keraf
(2004:135) berpendapat bahwa hiperbola yaitu semacam gaya bahasa yang
mengandung suatu pernyataan yang berlebihan dengan membesar-basarkan suatu hal.
Sementara itu, menurut Burhan Nurgiyantoro (2002:300) hiperbola adalah gaya
bahasa yang cara penuturannya bertujuan menekankan maksud dengan sengaja
melebih-lebihkan Dari dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa hiperbola
adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlabihan dari kenyataan.
Penggunaan
gaya bahasa Hiperbola pada cerpen Bidadari Senja, karaya Sakti Wibowo berjumlah
9 gaya bahasa hiperbola, yaitu pada halaman 8, 10, 13, 14 dan halaman16.
1.
Aku ingat kau yang pertama kali mengenalkan kaffahnya Islam kepadaku. Kau menuntunku untuk mengenal-Nya, hingga
benar-benar tanganku bersentuh dengan agung firman-Nya. (halman
8)
2. Aku
tenggelam bersamamu mencoba mensibghah diri dalam celupan-Nya. Yunda..., galau yang kau rasa ketika usia
menyentuh kepala tiga, dan melarikan masa lajangmu begitu jauh
menghitung panjang dunia,
(halaman
8)
3.
”Galuh yakin, Allah akan mendatangkan
jodoh-Nya, Nenek tersenyum. Meluas sabarnya. (halaman 10)
4.
Yunda, jika bisa rasanya ingin kupenuhi lagi selubuk kesabaran untukmu.
(halaman 10)
5.
Tapi ketika menguras kesabaran itulah, kita harus yakin Allah akan mendatankan pertolongan. (halaman 10)
6.
Tapi tidak dengan bapak. ”Hanya orang yang tidak memiliki pekerjaan yang kau pilih, Galuh? Kau ini bagaimana? Dia
biasa memberikan apa padamu?” Dentaman suara bapak di telepon membuatmu
mengembangkan air mata. Kau coba menahan tangis. (halaman 13)
7. Kali ini pecah tangismu, Yun….
(halaman 14)
8. Namun tamparan bapak mendarat di
pipinya dan ia terjengkang.
(halaman 16)
9. Kesabaranmu yang luar biasa, memang
pantas bersuamikan seorang lelaki saleh yang prasaja dan juga memiliki
kesabaran yang menggunung.
(halaman 16)
4.1.5.3 Metafora
Metafora
adalah jenis gaya bahasa yang dapat menolong seorang pembaca atau penulis untuk
menggambarkan dengan jelas melalui komparasi atau kontras. Metafora berasan
dari bahasa Yunani metaphora yang berarti memindahkan. Metafora membuat perbandingan
antara dua hal atau benda untuk menciptakan suatu kesan mental yang hidup
walupun tidak dinyatakan secara eksplisit dengan penggunaan kata-kata seprti,
ibarat, bak, sebagaimana, umpama, laksana, penaka, serupa seperti pada
perumpamaan (Dele [et al], 1971 : 224).
Metafora
adalah jenis gaya bahasa yang
menggunakan pemakain kata-kata bukan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai
lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan (Poerwadarmita, 1976 :
648).
Penggunaan
gaya bahasa Metafora pada cerpen Bidadari Senja, karaya Sakti Wibowo berjumlah
3 gaya bahasa metafora, yaitu pada halaman 10 dan halaman18
1.
”Jangan berfikir Nenek seperti bapakmu, Nduk. Nenek yakin, kau akan bersanding dengan seseorang saleh yang indah
tawadhu’ di hadapan Allah. ” Senyummu samar. Tak kupungkiri disela kukuh
karang tekadmu
(halaman 10)
2.
Barangkali kau telah berada pada ambang batas kesabaran itu. (halaman 10)
3. ”Pak,
apakah ini tindakan seorang bapak yang bijak?” sindirku tajam.
(halaman 14)
4.1.5.4 Simile
Gorys Keraf
(2004:142) berpendapat bahwa simile adalah perbandingan yang bersifat
eksplisit. Yang dimaksud perbandingan yang bersifat eksplisit ialah bahwa ia
langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. untuk itu, ia memerlukan
upaya yang secara eksplisit menunjukkan kesamaan itu, yakni kata-kata: seperti,
sama, sebagai, bagaikan, laksana,
layaknya, dan sebagainya.
Penggunaan
gaya bahasa Simile pada cerpen Bidadari Senja, karaya Sakti Wibowo berjumlah 4 gaya
bahasa simile, yaitu pada halaman 8, 15, 10 dan halaman18.
1.
Seperti tak percaya rasanya disenja ini aku telah kehilangan kakak yang begitu berharga dalam hidupku. (halaman 8)
2.
Sebagai buktinya adalah dengan hanya sedikit kau mengangkat bahumu menanggapi kalimat nenek (halaman 10)
3.
Kenapa bapak tidak menyikapinya sebagaimana sikap seorang yang dewasa dan berlapang dada?” (halaman 15)
4. Di
seja terakhir seperti kulihat bayang bidadari-bidadari surga bersunting melati-melati tujuh mahkota dan berselendang
aneka warna. Kau... adalah salah
satu bidadari itu. (halaman 18)
4.1.5.5 Sarkasme
Kata sarkasme bersal dari bahasa Yunani sarkasmos
yang diturunkan dari kata kerja sakasein yang berarti merobek-robek daging
seperti anjing’, ’menggigit biber karena marah’ atau ’bicara bicara dengan
kepahitan (Keraf, 1985 :144).
Ciri-ciri
utama gaya bahasa sarkasme selalu mengandung kepahitan kecelakaan yang getir
dan menyakitkan hati, dan kurang enak di dengar. Jika dibandingkan gaya bahasa
sarkasme dengan gaya bahasa ironi, maka sarkasme lebih kasar yang mengandung
olok-olok dan sindiran pedas dan menyakitkan (Poerwardarmita 1976 :874).
Penggunaan
gaya bahasa Sarkasme pada cerpen Bidadari Senja, karaya Sakti Wibowo berjumlah 3
gaya bahasa sarkasme, yaitu pada halaman 13,14 dan halaman 16.
1.Tapi
tidak dengan bapak, Hanya seorang yang tidak memiliki pekerjaan yang kau pilih, Galuh? Kau ini
bagaimana? Dia bisa memberikan apa kepadamu? (halaman 13)
2.
Kemaran dan ketersinggungan tidak bisa disembunyikan dari logat bicara bapak. Bahkan dengan sangat tega bapak
mengatakan tak akan pulang kalau Yunda hanya menikan dengan seorang buruh
rendahan (halaman 14)
3.
”Kamu harus bercerai dengan suamimu.” ”Tidak...!” ”Memalukan. Kau telah menipu bapak dengan semua hali ini.” (halaman
16)
4.1.5.6 Aliterasi
Aliterasi adalah jenis gaya bahasa yang memanfaatkan
purwakanti atau pemakaian kata-kata yang sama bunyinya (Tarigan, 1985 : 197).
Aliterasi
adalah semacam jenis gaya bahasa yang wujud perulangan konsonan yang sama.
Biasanya dipergunakan dalam puisi, cerpen kadang-kadang dalm prosa, untuk perhiasan
atau penekanan (Keraf; 1985 : 130).
Penggunaan
gaya bahasa Aliterasi pada cerpen Bidadari Senja, karaya Sakti Wibowo berjumlah
7 gaya bahasa aliterasi, yaitu pada halaman 8, 9, 13, 14, 16 dan halaman 17.
1. Misalnya, Jayus yang
pengusaha dengan bisnis-bisnis yang tidak jelas
halal-haramnya (halaman 8)
2. Jika saja ada biro iklan
yang melihatmu tentu kau sudah ditawari menjai bintang iklanya. Sopan santun? Nyatanya sekali
tergambar dalam perilakumu
(halaman 9)
3. ”Islam, Islam... dan
selalu Islam yang kau jadikan sebagai alasan (halaman 13)
4. Sekarang ini Bapak yang
berusaha memaksakan kehendak Bapak dengan memanfaatkan ketidakmanpuan Yunda. Ini
namanya adigang-adigung, Pak....” (halaman 14)
5. Mas Wisnu tergopoh-gopoh
barusan pulang dari kerja. (halaman 16)
6. Mas Wisnu meninggalkan
qiyamanya dan bermunajat dengan tebata-bata.
(halaman 16
7. Yang kutahu hanya engkau
pulang dalam keadaan kurus kering dankusut.
(halaman 17)
4.1.5.7 Pleonasme
Pleonasme adalah pemakaian kata yang mubazir atau
berlebihan. Suatu acuan disebut pleonasme bila kata yang berlebihan itu
dihilangkan, artinya tetap utuh (Keraf, 1985 : 133).
Penggunaan
gaya bahasa Pleonasme pada cerpen Bidadari Senja, karaya Sakti Wibowo berjumlah
6 gaya bahasa pleonasme, yaitu pada halaman 8, 10, 13 dan halaman 14.
1.
Sungguh lama nian perhitungan waktu menuggu itu (halaman 8)
2.
Kau hanya menggelengkan kepala atas semua saran bapak tentang kebaikan Jayus. (halaman 8)
3.
”Kau mengenalnya, Dik?” tanyamu ketika aku mencoba menyampaikan lamaran ikhwan teman kuliahku (halaman 10)
4.
Dan sekali lagi aku mengempaskan legaku demi melihat kau tak bereaksi sedikitpun dengan hal itu. (halaman 13)
5. Padahal
bagi lelaki itu telah disediakan bidadar-bidadari surga yang cantik jelita. (halaman13)
6. Kemarahan
dan ketersinggungan tak bisa disembunyikan dari logat bicara bapak.
(halaman 14)
4.1.5.8 Ironi
Gaya bahasa yang menyatakan makna yang
bertentangan, dengan maksud mengolok-olok. Jenis gaya bahasa ini merupakan
jenis gaya bahasa yang mengimplikasikan sesuatu yang nayata berbeda, bahkan ada
kalanya bertentangan dengan sebenarnya dikatakan. Ironi ringan merupakan suatu
bentuk humor tetapi ironi berat atau ironni keras biasanya merupakan suatu
bentuk sarkame atau satire, walaupun ada pembatas-pembatas yang tegas antara
hal-hal itu sangat sukar dibuat dan jarang sekali memusatkan seseorang
(Tarigan, 1984 : 144; Tarigan 1985, 189).
Penggunaan
gaya bahasa Ironi pada cerpen Bidadari Senja, karaya Sakti Wibowo berjumlah 4
gaya bahasa ironi, yaitu pada halaman 8, 9, 10 dan halaman14.
1.
Kau yang sarjana memiliki pekerjaan sebagai guru SLTP telah lewat usia tiga
puluh. Tak kunjung datang seorang ”perwira” yang menggenapkan separuh dinmu. Sungguh lama perhitungan nian
menunggu itu. (halaman 8)
2.
”Barangkali bapakmu malu karena berfikir kau enggak laku-laku, Nduk.” (halaman 9)
3.
Kau tengah mencoba bertahan dari kerapuhan menanti predikat yang melekat dengan begitu miring. ”Perawan tua”
(halaman 10)
4.
Barangkali karena tidak menghendaki kau semakin tua melajang, Yun..., akhirnya bapak mengiyakan. (halaman 14)
4.1.5.9 Eufemisme
Kata
Eufemisme berasal dari bahas Yunani eufhenizein
yang berarti bicara dengan kata-kat baik yang jelas. Eufemisme merupakan gay
bahsa wajar, dan bisa menjadi ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti
ungkapan yang dirasakan kasar yang dianggap merugikan, atau tidak menyenangkan
(Moeliono, 1984 : 3-4).
Penggunaan
gaya bahasa Eufemisme pada cerpen Bidadari Senja, karaya Sakti Wibowo berjumlah
5 gaya bahasa eufemisme, yaitu pada halaman 8, 9, 10 dan halaman 13.
1.
Bapak dan ibu yang tinggal diluar Jawa karena mengikut program transmigrasi tak henti mengajukan
”pendaftaran” (halaman 8)
2.
”Yang sefikrah, Islam Pak, dan mengerti hakikat keislamannya (halaman 9)
3.
seorang politisi yang tanpa sepengetahuan telah meminanga dan memberikan cincin pertunangan. (halaman 9)
4.
kau akan bersanding dengan seseorang yang saleh dan indah tawadhu’ di hadapan Allah.” (halaman 10)
5.
Ketika kecilnya terkena penyakit pholio.” (halaman 13)
4.1.5.10 Alusi
Alusi atau kilatan adalah gaya bahasa yang
menunjuk secara tidak lansung kesuatu peristiwa atau tokoh berdasarkan
peranggapan adanya pengetahuan bersama yang dimiliki oleh pengarang dan pembaca
serta adanya kemampuan para pembaca untuk menangkap pengacuan (Moeliono, 1984 :
3).
Penggunaan
gaya bahasa Alusi pada cerpen Bidadari Senja, karaya Sakti Wibowo berjumlah 2
gaya bahasa alusi, yaitu pada halaman 8 dan halaman14.
1.
Kaulah yang pertma kali mengenalkan kaffah islam kepadaku(halaman 8)
2. Sungguh
lama nian perhitungan waktu itu (halaman 8)
BAB
V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan
temuan analisis gaya bahasa dalam cerpen Bidadari
Senja karya Sakti Wibowo dapat
disimpulkan jumlah majasnya adalah 45 yang terdiri dari 10 gaya bahasa yang ada di dalam cerpen tersebut
diantaranya adalah (1) jenis gaya bahasa personafikasi berjumlah 2, (2)
hiperbola berjumla 9, (3) metafora 3, (4) simile 4, (5) sarkasme 3, (6)
alitrasi 7, (7) pleonasme 6, (8) ironi
4, (9) eufemisme 5, dan yang terakhir
(10) alusi berjumlah 2. Data-data penelitian ini, diambil berdasarkan
jenis gaya bahasa dan jumlah majas yang terdapat di dalam cerpen Bidadari Senja karya Sakti Wibowo.
5.2 Saran
Sehubungan
dengan hasil penelitian ini, sejumlah saran penulis kemukakan sebagai berikut :
1. Kepada
pembaca, agar senantiasa menambah khasanah bahan bacaan sastra melalui
perpustakaan, untuk merangsang peningkatan kegemaran membaca karya sastra, baik
bagi penulis, peneiti, mauppun pembaca itu sendiri.
2. Kepada
Peneliti Selanjutnya, agar bisa hasil penelitian ini bisa menjadi acuan
penelitian lebih lanjut, serta dengan mengembangkan kemungkinan-kemungkinan
terhadap gaya-gaya bahasa lain yang belum ada dalam cerpen ini maupun
unsur-unsur intrinsik yang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin.
1995. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : Sinar Baru
Alegesindo Offset.
. 2008. Semantik Pengantar Studi Tentang Makna
: Sinar baru
Algensindo Bandung
Alwi,
2007. Macam-macam Majas atau Gaya Bahas. http://unstiler.com/home.pph?
Depdikbud,1999. Telaah Stilistika Novel Bahasa jawa Tahun 1980-an.
Jakarta : Balai Pustaka
Dik Hartanto dan B. Rahmanto, 2002.
Kajian Stilistika. : Jakata
Eddy, Nyoman Tusti. 1985 Guman
Seputar Apresiasi Karya Sastra. Ende
Flores:
Nusa Indah
Effendi, 2002. Kiat Menulis
Cerita Pendek. Bandung: Angkasa.
Fatimah Djajasudarma, 2006. Metode Lisngusitik, ancangan metoe dan
kajian. Bandung: PT Refika Aditama
Hasanuddin, 2009. Drama Karya Dalam Dua Dimensi. Bandung : Angkasa
Henry Guntur
Tarigan,1989 Pengajaran Gaya Bahasa. Bandunga : Angkasa
Herman J. Waluyo. 1987. Drama I. Surakarta :
Universitas sebelas maret
_________. 1987. Drama II. Surakarta : Universitas
Sebelas maret
Julia Brannen, 2005. Memandu Metode Penelitian. Samarinda : Pustaka
Pelajar & Fakultas Tarbiah Samarinda
Mansur Muslimah 2008. Fonologi Tinjauan Deskptif system Bunyi Bahasa
Indonesia. Sinar Grafika offset
Ngajen, Mohamed. 1999. Metode Penelitian. Jakarta : Gramedia
Syukur Ibrahim, 1995 Sosiolinguistik Sajian, Tujuan, Pendekatan dan
Problem.Usaha Nasional
Sakti Wibowo, 2005. Kumpulan Cerpen Bidadari Senja. Jakarta : Gema Insan
Wellek, Rene & Austin Werren. 1995. Teori Kesusatraan. Jakarta :
Gramedi
LEMBAR KONSULTASI
ANALISIS GAYA BAHASA DALAM CERPEN
”BIDADARI SENJA” KARYA SAKTI
WIBOWO
Nama : HENDRAYADI
Nim : 10711.0046
Jurusan : Pendidikan Bahasa dan
Seni
Program Studi : Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia
dan Daerah
Dosen Pembimbing : 1. Drs. Akhmad H. Mus, M. Hum
2. Roby Mandalika. W, S. Pd
No
|
Hari/Tanggal
|
Materi Konsultasi
|
Paraf
|